Inflasi Jawa Timur mencapai 2,93 persen sepanjang 2025, tertinggi sejak 2023 dan melebihi inflasi nasional 2,92 persen. Kenaikan ini terutama dipicu oleh lonjakan harga makanan, minuman, tembakau, emas perhiasan, serta listrik rumah tangga yang menekan daya beli masyarakat menjelang akhir tahun.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau melonjak hingga 4,19 persen akibat harga cabai rawit, tomat, serta beras yang sulit dikendalikan. Inflasi bulanan November saja mencapai 0,17 persen, dengan Sumenep menjadi daerah terparah di 3,75 persen sementara Gresik paling terkendali di 2,44 persen.
Dampaknya terasa berat bagi UMKM di Surabaya dan Malang, di mana daya beli turun hingga 15 persen sehingga pasar tradisional menjadi sepi. Pencarian Google untuk “harga cabai murah Jatim 2025” melonjak 300 persen sepanjang Desember, meski Pemprov Jatim mengklaim situasi masih terkendali melalui operasi pasar.
Secara bulanan, inflasi y-on-y di April mencapai 1,35 persen yang dipicu Banyuwangi hingga 2,38 persen. Mei tercatat 1,22 persen dengan Tulungagung paling tinggi di 1,84 persen, sementara Juni 0,43 persen disebabkan cabai rawit.
Oktober inflasi bulanan 0,30 persen akibat emas perhiasan dan cabai merah, lalu November melonjak ke 2,63 persen karena tomat dan emas. Secara keseluruhan, kenaikan makanan mendominasi dengan 4,19 persen sepanjang tahun.
Untuk 2026, Satgas Pangan menambah stok beras 50.000 ton dan stabilisasi cabai melalui impor darurat. Analis memprediksi tekanan berlanjut jika cuaca ekstrem berulang, sehingga warga disarankan beralih ke pasar digital untuk hemat hingga 20 persen sambil memantau “inflasi Jatim Januari 2026”.(ddk)



Comment